Aedes Aegypti dengan Wolbachia aman atasi DBD

Jakarta ( News) – Kajian analisis risiko yang dilakukan oleh tim independen yang dibentuk Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menunjukkan hasil penelitian pengendalian demam berdarah dengue (DBD) dengan teknologi Wolbachia aman atau memiliki risiko yang dapat diabaikan (negligible risk). “Pengendalian DBD dengan Wolbachia ini aman ditilik dari empat aspek yaitu ekonomi dan sosio-kultural, pengendalian vektor, ekologi, dan kesehatan masyarakat,” kata Ketua Tim Kajian Analisis Risiko Nyamuk Berwolbachia Damayanti Buchori di Jakarta, Jumat. Eliminate Dengue Project Yogya (EDP-Yogya) yang dimotori oleh Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) dan didanai Yayasan Tahija Indonesia kini tengah mengembangkan penelitian pengendalian DBD dengan menggunakan Aedes aegypti dengan Wolbachia. Nyamuk tersebut mampu menghambat penularan virus dengue di dalam tubuh nyamuk sehingga tidak mampu menularkan virus dengue kepada manusia. Wolbachia adalah bakteri alami yang terdapat di 60 persen jenis serangga yang ada di bumi, termasuk kupu-kupu, lebah, dan lalat buah, namun tidak terdapat dalam nyamuk Aedes aegypti penyebab demam berdarah. Setelah melewati dua fase penelitian, lima orang tim pakar independen yang terdiri dari ahli berbagai bidang yang berasal dari akademisi dan praktisi dari universitas dan lembaga-lembaga riset di Indonesia, ditambah 20 anggota tim pengkaji risiko lainnya melakukan kajian risiko sejak April 2016 dengan metodologi analisa statistik kualitatif. “Kami analisa risiko negatifnya, menganalisa semuanya termasuk kemungkinan yang bisa terjadi. Misalnya, apakah yang terjadi pada penggunaan nyamuk berwolbachia ini, apa yang akan terjadi, apa akan ada peningkatan resistensi insektisida,” ujar dia. Singkat kata, tim, menurut dia, telah menganalisis dan hasil akhir kajian ini menemukan bahwa peluang terjadinya dampak negatif pelepasan nyamuk dapat diabaikan ( negligible), kecuali untuk komponen sosial ekonomi karena tim memasukkannya sebagai “low risk”. “Kami temukan dari hasil riset lapangan ada kegelisahan penduduk, konflik yang terjadi, dan dari faktor sosial ekonomi budaya harus hati-hati. Selain ada konflik masyarakat, ada pula efek negatif media, ada klas action, sehingga kami meletakkan low risk di sosial, tetapi di ekonomi bisa diabaikan,” ujar dia. Namun, menurut dia, teknologi selalu mengandung risiko, maka pemanfaatan sains juga terkadang dibatasi pengetahuan manusia itu sendiri. Namun sejauh ini 25 tim analisa telah memperhitungkan seluruhnya, namun manusia ada batasnya dan bisa saja ada faktor lain yang muncul di kemudian hari sehingga membuat analisa dari komponen-komponen tadi berubah. Selain Indonesia, negara lain yang tergabung dalam EDP-Global yang telah melakukan kajian serupa adalan Vietnam dan Australia. Hasil kajian tersebut menjadi tonggak untuk melakukan kajian lebih lanjut di Indonesia, dalam latar lingkungan yang berbeda. Kemenristekdikti berharap bahwa hasil kajian analisis risiko ini bisa digunakan tim peneliti untuk terus mengembangkan penelitian ini, mengingat penyakit DBD masih menjadi ancaman serius di Indonesia. Editor: Ruslan Burhani COPYRIGHT © 2016

Sumber: AntaraNews