Bobotoh Mau Masuk, Jakarta Terpantau Lancar

JAKARTA – Wacana Siaga 1 yang diutarakan Kapolda Metro Jaya Irjen Tito Karnavian membuat wilayah Jakarta terpantau lancar. Padahal setiap akhir pekan, pusat perbelanjaan dan tempat wisata selalu dipadati mayarakat Ibu Kota Jakarta yang ingin menghabiskan waktunya bersama keluarga. Hal ini dikarenakan adanya pertandingan partai final Piala Presiden yang mempertemukan Persib Bandung kontra Sriwijaya FC di Stadion Gelora Bung Karno (SUBK), Minggu (18/10/2015) malam nanti. Wacana Siaga 1 itu untuk mengantisipasi bentrokan antar suporter. Seperti dilansir dari twitter SindotrijayaFM (‏@SindotrijayaFM) 40 menit lalu, tol Cawang – TMII-Cibubur-Bogor-Ciawi dan sebaliknya Ciawi-Bogor-Cimanggis-TMII-Cawang, terpantau lancar. Sekadar informasi, bobotoh mulai mengalir ke Jakarta. Meski di Bandung sendiri rombongan besar baru akan diberangkatkan mulai pukul 10.00 WIB, namun sejumlah kelompok kecil yang berada di seputaran kota di Jawa Barat sudah mulai bergerak. Kelompok bobotoh dari Citeureup misalnya. Mereka sudah mulai bergerak ke Jakarta pada pukul 08.00 WIB. Menurut laporan NTMC Polda Metro Jaya, Minggu (18/10/2015), bobotoh dari Citeureup ini sudah dilepas oleh polsek setempat. (Baca juga: Bobotoh Mulai Mengalir ke Jakarta ) Sementara itu, final Piala Presiden sudah dipastikan tanpa kehadiran Ketum PSSI La Nyalla Mahmud Mattalitti. Kendati mendukung dan mendoakan agar final berjalan lancar dan aman, pria yang terpilih secara sah oleh pemilik suara sah PSSI itu urung hadir karena alasan yang sangat humanis. “Memang sorak-sorak ceria kedua suporter akan begitu meriah di final nanti, tapi jangan kita lupakan, itu hanya segelintir pemain saja yang merasakan euforianya, masih banyak ribuan pemain yang belum bisa menikmati hidupnya di sepak bola, ini membuat saya tidak bisa berbahagia di atas penderitaan pelaku sepak bola yang lain, sepak bola kita masih berkabung,” ujar La Nyalla kepada wartawan seperti dikutip situs resmi PSSI. Menurut La Nyalla, Piala Presiden hanya diikuti oleh belasan klub ISL, sedangkan strata yang lain, dengan isi pemainnya, dengan para perangkatnya, dengan pengurusnya, dengan masyarakat kecil yang terlibat, dari tukang parkir sampai tukang cuci sepatu, hanya menjadi saksi kegembiraan Piala Presiden di rumahnya dengan minusnya pendapatan finansial dan sulitnya menjalani hidup. “Jangan kita lupakan kesengsaraan mereka, kesusahan hidup mereka, karena kompetisi tidak berputar, yang semua kita tahu, intervensi pemerintah dalam hal ini Menpora Imam Nahrawi membuat semua ini terhenti. Ini justru lebih menyedihkan, Piala Presiden hanya kegembiraan sesaat yang akan sirna dengan cepat,” tambahnya. Pria yang terkenal dengan suara lantangnya itu mengatakan, lebih utama lagi adalah bagaimana caranya sepak bola Indonesia kembali aktif dan berjalan dengan baik. “Semua hanya dengan satu cara, yakni tarik intervensi pemerintah dari sepak bola dengan cara cabut pembekuaan PSSI, secara otomatis sanksi FIFA akan juga dicabut,” tutup La Nyalla. ( bbk ) dibaca 8.305x

Sumber: Sindonews